Mengintip Koleksi Kereta Pusaka Keraton Yogyakarta, Simbol Kekuasaan dan Tradisi

Photo of author

Ditulis oleh Bogi Kamali Rozaq

Berkecimpung dalam dunia SEO dan masih belajar.

Yogyakarta yang merupakan kota bersejarah di Indonesia tidak akan pernah lepas dari eksistensi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagai jantung budaya Jawa, Keraton bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat peradaban yang menyimpan ribuan cerita, filosofi, dan peninggalan sejarah yang masih hidup hingga saat ini.

Salah satu warisan yang paling memukau dan selalu berhasil mencuri perhatian wisatawan maupun warga lokal adalah koleksi kereta pusaka Keraton Yogyakarta. Kereta-kereta ini bukan sekadar kendaraan kuno, melainkan saksi bisu perjalanan politik, sosial, dan spiritual dinasti Mataram Islam di tanah Jawa.

Kereta Kuda pada Kerajaan-Kerajaan Dunia

Keereta kuda kerajaan, Sumber: carmudi.co.id
Keereta kuda kerajaan, Sumber: carmudi.co.id

Di masa lalu, sebelum mesin uap dan mesin kendaraan ditemukan, kereta kuda adalah simbol status tertinggi bagi sebuah kerajaan. Ia adalah representasi kekuasaan, wibawa, dan kemandirian sebuah bangsa. 

Fenomena ini tidak hanya terjadi di nusantara, tetapi juga di seluruh penjuru dunia. Hingga hari ini, tradisi menggunakan kereta kuda kerajaan masih dilestarikan dengan sangat terhormat. 

Kerajaan Inggris memiliki Gold State Coach, yang merupakan kereta kencana megah yang telah digunakan dalam setiap penobatan raja dan ratu sejak era Raja George IV. Begitu pula dengan Kerajaan Belanda yang memiliki Gouden Koets.

Sedangkan di Prancis dikenal adanya Kereta Penobatan Charles X. Merupakan kereta kenegaraan mewah berlapis perunggu dan emas yang digunakan untuk penobatan Raja Charles X dari Prancis di Reims pada tahun 1825. 

Di Yogyakarta, tradisi ini tetap terjaga dengan khidmat. Koleksi pusaka Keraton Jogja berupa kereta kencana ini tidak hanya dipandang sebagai alat transportasi masa lalu, tetapi juga memiliki nilai sakral yang mendalam.

Karena Yogyakarta pernah mengalami penjajahan oleh bangsa Eropa, khususnya Belanda, maka kereta kerajaan di Yogyakarta desainnya juga seperti corak kereta Belanda. Bahkan sebagian besar koleksi kereta produksi Eropa.

Kendaraan bersejarah tersebut dirawat dengan tata cara khusus, seiring dengan nafas tradisi lainnya seperti tradisi patehan Kraton dan berbagai tradisi Keraton lain yang tetap eksis menjaga harmoni kehidupan istana.

Menjelajahi Koleksi Kereta Pusaka Keraton Yogyakarta

Koleksi Kereta Pusaka Keraton, Sumber: kompasiana.com
Koleksi Kereta Pusaka Keraton, Sumber: kompasiana.com

Keraton Yogyakarta memiliki puluhan koleksi kereta dengan fungsi dan sejarah yang berbeda-beda. Beberapa diantaranya merupakan hadiah dari gubernur jenderal Belanda, sementara yang lain dipesan khusus oleh para Sultan yang bertahta. Berikut adalah beberapa koleksi yang paling ikonik:

1. Kanjeng Nyai Jimat

Ini adalah kereta kencana tertua di Keraton Yogyakarta. Dibuat di Belanda sekitar tahun 1740-1750, kereta ini merupakan hadiah dari Gubernur Jenderal Jacob Mossel kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I. 

Kereta ini memiliki desain klasik Barok yang sangat megah dan digunakan sebagai kereta utama Sultan dalam acara-acara kenegaraan yang sangat penting.

2. Kyai Garuda Yeksa

Dibuat di Belanda pada tahun 1861, kereta ini memiliki ciri khas berupa patung burung Garuda yang terbuat dari emas di bagian puncaknya. Kereta Kyai Garuda Yeksa hanya digunakan untuk upacara penobatan Sultan (Jumenengan). 

Hingga saat ini, kereta ini dianggap sebagai salah satu kereta berwibawa di lingkungan istana keraton Yogyakarta. Apakah Sedulur Yogyaku pernah melihatnya?

3. Kyai Jolodoro

Berbeda dengan Nyai Jimat yang formal, Kyai Jolodoro lebih sering digunakan untuk keperluan pesiar atau perjalanan santai Sultan. Desainnya lebih terbuka, memungkinkan Sultan untuk menyapa rakyatnya secara lebih dekat.

Kereta bersejarah ini merupakan peninggalan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IV. Terkadang penggunaannya berpasangan dengan kereta lain seperti kereta Kyai Manik Retno.

4. Kyai Wimono Putro

Kereta ini memiliki peran khusus dalam sejarah suksesi kepemimpinan. Biasanya, Kyai Wimono Putro digunakan untuk menjemput atau mengantar Putra Mahkota dalam upacara-upacara resmi kerajaan.

Kereta ini dibuat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI, yakni sekitar tahun 1860-an di pabrik Barendse, Semarang. Kereta ini biasanya ditarik oleh enam ekor kuda.

5. Kereta Premili

Kereta Premili merupakan kereta pusaka istimewa milik Keraton Yogyakarta yang dibuat sekitar tahun 1880 oleh G. Barendse di Semarang. Kereta ini difungsikan khusus untuk mengangkut para penari atau pelatih tari beksan Keraton. 

Kereta ini mampu menampung sekitar 10 hingga 12 orang sehingga ukurannya relatif besar. Kereta ini ditarik oleh empat ekor kuda dan saat ini tersimpan di Museum Wahana Rata, tempat penyimpanan kereta-kereta pusaka Keraton Yogyakarta.

Perawatan Pusaka dan Transformasi Wahana Rata

Jamasan pusaka, Sumber: kratonjogja.id
Jamasan pusaka, Sumber: kratonjogja.id

Bagi Sedulur Yogyaku, mungkin sering mendengar istilah ‘Jamasan’. Setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa, Keraton melakukan ritual pembersihan atau jamasan terhadap benda pusaka keraton, termasuk kereta-kereta pusaka ini. 

Prosesi ini bukan sekadar membersihkan debu, melainkan bentuk penghormatan terhadap nilai sejarah dan spiritual yang terkandung di dalamnya.

Seiring perkembangan zaman, Keraton Yogyakarta menunjukkan sikap adaptif dengan tetap menjaga nilai tradisional. Kini, koleksi berharga tersebut dapat dinikmati dengan lebih modern melalui Museum Wahana Rata.

Wahana Rata adalah bentuk transformasi dari museum kereta lama yang kini hadir dengan fasilitas lebih lengkap dan interaktif. Di sini, Sedulur Yogyaku tidak hanya melihat fisik kereta, tetapi juga bisa belajar melalui teknologi Augmented Reality (AR) dan media digital lainnya. 

Keraton ingin memastikan bahwa generasi muda tetap bisa terhubung dengan sejarah tanpa merasa bosan. Bahkan, saat momen besar seperti Grebeg Besar, atmosfer kemegahan tradisi ini begitu terasa di seantero Yogyakarta, mengingatkan kita betapa kuatnya akar budaya yang kita miliki.

Pentingnya Mengenal Sejarah Leluhur

Kereta pusaka leluhur, Sumber: detik.com
Kereta pusaka leluhur, Sumber: detik.com

Mengapa kita harus repot-repot merawat benda dari masa lalu?

Mengetahui sejarah para leluhur melalui kereta pusaka Keraton Yogyakarta adalah cara generasi muda memahami jati diri. Setiap ukiran pada kereta, setiap pilihan warna, hingga tata cara perawatannya mencerminkan nilai-nilai luhur seperti ketelitian, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap proses.

Sejarah bukan sekadar kumpulan angka tahun, melainkan kompas untuk melangkah ke depan. Dengan menghargai peninggalan masa lalu, generasi muda bisa belajar untuk tidak menjadi bangsa yang ‘amnesia’ akan akarnya sendiri. 

Warisan ini adalah bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar, memiliki estetika tinggi, dan sistem pemerintahan yang teratur sejak berabad-abad silam dan diwariskan turun temurun bahkan sebelum republik hadir.