Menyimak Sejarah Tugu Jogja dan Nilai-Nilai Simbolisnya

Photo of author

Ditulis oleh Dila Arini

I'm the best served with coffee and a side of sarcasm

Tugu Jogja, salah satu tempat dan bangunan yang paling ikonik di Jogja yang tidak pernah sepi pengunjung. Bagi mereka yang berasal dari luar daerah, belum sempurna rasanya jika belum mendatangi tempat yang satu ini. Salah satunya karena sejarah Tugu Jogja yang cukup penting dan ikonis.

Bahkan, mereka yang merupakan masyarakat asli Jogja pun tidak jarang mengisi waktu luangnya berada di kawasan tugu Jogja. Hal ini tidak terlepas dari suasananya yang khas, yang meskipun cukup riuh dan ramai namun tetap memberi rasa tenang ketika berada di sini.

Nah, untuk Sedulur Yogyaku yang ingin menguliknya lebih dalam, berikut sejarah Tugu Jogja dan hal-hal yang berkaitan dengannya!

Menjadi Salah Satu Monumen Paling Ikonik, Ini Sejarah Tugu Jogja 

Sejarah Monumen Tugu Jogja, Sumber: mojok.co
Sejarah Monumen Tugu Jogja, Sumber: mojok.co

Telah ada sejak ratusan tahun yang lalu, Tugu Jogja sebenarnya sudah mulai dibangun sejak tahun 1755. Dimana, pada saat itu dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang juga merupakan pendiri Keraton Yogyakarta.

Secara sederhana, Keraton Yogyakarta adalah istana resmi kesultanan Yogyakarta atau Ngayogyakarta Hadiningrat. Keraton ini sudah didirikan sejak tahun 1755 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Jika ditilik lebih mendalam, tugu ini mempunyai nilai simbolis yang sangat dalam, yakni ada garis bersifat magis sebab menjadi penghubung antara Keraton Yogya, Laut Selatan dan juga Gunung Merapi.

Pada saat awal-awal dibangun, Tugu Jogja menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, yang artinya semangat persatuan antara rakyat dan penguasa dalam melawan penjajah.

Hal tersebut bisa terlihat dari bangunan tugu yang pada saat itu disebut dengan golong gilig. Dimana, tiang tugu memiliki bentuk silinder atau gilig, dan bagian puncaknya memiliki bentuk bulat atau golong.

Tidak persis seperti saat ini, pada awal pembangunan tugu ini memiliki bentuk seperti silinder yang mengerucut ke bagian atas. Lalu, pada bagian dasarnya terdapat pagar yang berbentuk melingkar, dan puncaknya berbentuk bulat. Dari awal, ukuran tugu sudah cukup besar, yakni setinggi 25 meter.

Lalu, pada 10 Juni 1867, keadaan tugu Jogja berubah total karena dihantam gempa bumi yang cukup keras. Bahkan, bisa dikatakan bahwa Tugu Jogja runtuh dan hampir rata dengan tanah.

Tidak menghilangkan tekat dan semangat, kondisi tersebut malah menjadi saat-saat transisi, dan makna persatuan pun semakin kokoh terpatri bagi rakyat Indonesia, terutama yang berada di Jogja saat itu.

Memasuki tahun 1889, kondisi Tugu Jogja pun berubah total. Dimana, pemerintah Belanda yang saat itu berkuasa melakukan renovasi arsitektur Tugu Jogja. Bentuknya diubah menjadi persegi, dan bagian setiap sisinya dihiasi semacam prasasti.

Tak hanya sekadar bentuknya yang berubah, ketinggiannya pun dipotong 10 meter dan tinggal 15 meter saja. Bentuk tugu yang awalnya bulat berubah menjadi bentuk kerucut dan runcing.

Bahkan, namanya pun berubah menjadi Tugu Pal Putih atau De White Paal. Perubahan tersebut bukan hanya sekadar perubahan bentuk saja, namun menjadi salah satu usaha Belanda untuk mengikis persatuan antara raja dan rakyat.

Mereka berharap, perubahan bentuk hingga ukuran yang menjadi lebih kecil bisa menurunkan rasa persaudaraan yang selama ini dijaga baik oleh masyarakat hingga pemimpinnya.

Namun ternyata, raja dan rakyat Yogyakarta tidak mau menyerah begitu saja, persatuan tetap kokoh terbangun, dan taktik Belanda bisa dikatakan gagal total.

Bentuk Tugu Jogja di Masa Kini

Tugu Jogja di masa kini, Sumber: Sejarah Tugu Jogja, Sumber: detik.com
Tugu Jogja di masa kini, Sumber: Sejarah Tugu Jogja, Sumber: detik.com

Secara fisik, Tugu Jogja ini memiliki empat bentuk, yakni pada bagian bawah yang berfungsi sebagai landasan berbentuk kotak, lalu ada kotak lain dengan prasasti, piramid tumpul yang memiliki ornamen khas dan bagian puncak yang berbentuk kerucut berulir.

Bentuk-bentuk di atas juga dikombinasikan dengan hiasan yang memiliki simbol Jawa. Yakni Hasta Karya (kering), daun waut, panah, daun teratai, daun loto, bentuk praba, janget kinatelon, ceceg, bintang sudut enam, wajik hingga stiliran. Tidak lupa pula ada tulisan Jawa di setiap sisinya.

Untuk warna yang digunakan juga cukup khas, yakni kombinasi antara warna coklat hitam dan emas yang sengaja dipilih untuk bagian puncak. Warna emas ini seakan memperlihatkan kemegahan monumen tidak peduli dilihat dari sudut mana saja.

Makna dan Fungsi Tugu Jogja

Makna monumen Tugu Jogja, Sumber: detik.com
Makna monumen Tugu Jogja, Sumber: detik.com

Sebagai salah satu obyek wisata Jogja paling ikonik, tempat ini tentu memiliki maknanya tersendiri. Baik bagi masyarakat sekitar atau bagi pelancong yang datang berkunjung. Seperti yang sudah disinggung tadi, makna Tugu Jogja adalah persatuan rakyat dan raja.

Makna tersebut bukanlah sekadar kata-kata saja, namun ada makna dan nilai yang mendalam yang terpatri bagi masyarakat Jogja dan rajanya. Dimana, ketika sudah coba dikikis oleh penjajah Belanda namun tidak berhasil dan bertahan hingga kini.

Selain menjadi monumen kebanggaan masyarakat Jogja hingga kini, fungsi Tugu Jogja yang lainnya adalah sebagai patokan arah ketika Sri Sultan Hamengku Buwono I ketika melaksanakan meditasi yang menghadap arah puncak Gunung Merapi.

Seperti yang diketahui, pada zaman dahulu teknologi untuk menunjukkan arah belum secanggih sekarang, sehingga dibutuhkan tanda khusus untuk mempermudahnya.

Selain itu, Tugu Jogja juga memiliki fungsi sebagai pembatas antara utara kota tua Yogyakarta.

Itulah informasi lengkap yang berkaitan dengan sejarah Tugu Jogja. Mengenal lebih dalam sebuah tempat dan sejarahnya tentu akan memberikan makna tersendiri, dimana masyarakat bisa lebih mencintai dan menghargai perjuangan dan tempat tempat bersejarah.

Nah, jika Sedulur Yogyaku masih mencari informasi lain terkait dengan kota ini seperti wisata low budget Jogja, maka bisa langsung mencarinya di laman utama Yogyaku!

Eksplorasi konten lain dari Yogyaku.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca