Bukan Sekadar Upacara, Saparan Bekakak Punya Filosofi yang Mendalam

Photo of author

Ditulis oleh Vita Maharani

Passionate food technology and writer. Find joy in traveling and culinary exploration. Sunsets are my muse, and rhythmic sound of the waves becomes the soundtrack of my adventure.

Pernah dengar ada boneka pengantin diarak keliling kampung, lalu “disembelih” di depan banyak orang? Kedengarannya memang bikin dahi berkerut, tapi itu yang terjadi setiap kali Saparan Bekakak digelar di Gamping, Sleman, Yogyakarta. Bukan horor, bukan pula pertunjukan sembarangan. Ini adalah salah satu tradisi budaya Jogja yang sudah bertahan ratusan tahun dan masih hidup sampai sekarang. 

Menariknya, di balik prosesinya itu, tersimpan filosofi yang jauh lebih dalam dari sekadar ritual tahunan. Mulai dari nilai pengorbanan, kesetiaan, hingga semangat gotong royong yang jadi nafas masyarakat Jogja. Penasaran kenapa tradisi ini bisa bertahan begitu lama dan apa saja maknanya? Simak artikel ini sampai akhir, ya!

Sejarah dan Asal Usul Saparan Bekakak

Sejarah Saparan Bekakak, Sumber: antaranews.com
Sejarah Saparan Bekakak, Sumber: antaranews.com

Sebelum Sedulur Yogyaku mencari tahu lebih dalam apa filosofinya, apa Sedulur Yogyaku tahu apa itu Saparan Bekakak, bagaimana prosesinya, dan kenapa harus sepasang boneka? Nah, kalau belum, sini yuk kepoin dulu. 

Saparan Bekakak sudah ada sejak era pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Konon, tradisi ini berawal dari kisah abdi dalem bernama Kyai Wirosuto dan istrinya, Nyai Wirosuto, yang meninggal dunia secara misterius di kawasan Gunung Gamping saat mengikuti perjalanan sang sultan. 

Sebagai bentuk penghormatan atas kesetiaan dan pengabdian mereka, sultan memerintahkan agar diadakan upacara khusus setiap bulan Sapar dalam kalender Jawa. Inilah mengapa disebut Saparan Bekakak. 

Sampai hari ini, tradisi ini tetap digelar setiap tahun oleh masyarakat Gamping, Sleman. Bukan sekadar rutinitas, tapi sebuah cara masyarakat untuk terus mengingat dan menghormati leluhur mereka. Warisan yang patut untuk dilestarikan. 

Prosesi Pelaksanaan Saparan Bekakak

Proses pelaksanaan Saparan Bekakak, Sumber: wikipedia.com
Proses pelaksanaan Saparan Bekakak, Sumber: wikipedia.com

Saparan Bekakak bukan sekadar acara seremonial biasa. Prosesinya berlangsung meriah, penuh warna, dan sarat makna. Setiap tahapan prosesinya punya maksud dan tujuan tertentu. Berikut tahapan prosesi Saparan Bekakak secara umum: 

  • Pembuatan sepasang boneka bekakak dari tepung ketan yang dibentuk menyerupai pengantin Jawa lengkap dengan busana adat.
  • Prosesi doa dan selamatan sebagai pembuka rangkaian upacara, dipimpin oleh sesepuh atau tokoh adat setempat.
  • Arak-arakan boneka bekakak mengelilingi kampung diiringi gamelan, tarian tradisional, dan kirab budaya yang meriah.
  • Penyembelihan boneka bekakak sebagai puncak upacara, di mana isi boneka yang berupa gula merah dan beras ketan dibagikan kepada warga.
  • Perebutan isi bekakak oleh masyarakat yang hadir, dipercaya membawa keberuntungan dan berkah bagi yang mendapatkannya.

Setelah prosesi selesai, suasana berubah menjadi perayaan bersama yang hangat. Warga berkumpul, berbagi makanan, dan menikmati momen kebersamaan setahun sekali itu. Makanya, Saparan Bekakak ini bukan ritual saja tapi juga reuni budaya yang mempererat tali persaudaraan. 

Makna Sepasang Boneka Bekakak sebagai Simbol Pengorbanan

Makna sepasang boneka, Sumber: detik.com
Makna sepasang boneka Bekakak, Sumber: detik.com

Boneka bekakak yang dipakai dalam acara ini bukan sembarang properti. Sepasang boneka ini representasi dari Kyai dan Nyai Wirosuto. Sepasang sejoli yang dianggap telah berkorban demi kesetiaan mereka kepada sang sultan. Dibuat dengan bahan seperti tepung ketan dan gula merah, boneka ini jadi simbol harapan agar masyarakat selalu diberi keberkahan dan kemakmuran. 

Nah, uniknya juga, penyembelihan ini bukan berarti kekerasan. Justru ini adalah pemberian. Kok bisa? Jadi isian dalam bekakak itu di akhir acara dibagikan ke seluruh warga. Maksud filosofinya adalah limpahan rezeki yang harus dinikmati bersama-sama, bukan dimiliki sendiri. Sebuah pengingat bahwa kemakmuran paling bermakna ketika dibagi. 

Filosofi Mendalam di Balik Saparan Bekakak

Filosofi mendalam Saparan Bekakak, Sumber: bacajogja.id
Filosofi mendalam Saparan Bekakak, Sumber: bacajogja.id

Tradisi yang bertahan ratusan tahun tentu bukan tanpa alasan. Di balik elemennya, tersimpan nilai-nilai yang tidak hanya relevan di masa lalu, tapi juga masih sangat bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sekarang. Nah apa saja sih nilai-nilainya, berikut rangkumannya. 

1. Simbol Kesetiaan dan Pengabdian Tanpa Pamrih

Kisah Kyai dan Nyai Wirosuto adalah kisah tentang kesetiaan yang tidak pernah goyah meski nyawa menjadi taruhannya. Mereka hadir dalam setiap perjalanan sultan bukan karena terpaksa, tapi pengabdian yang datang dari hati. 

Itulah kenapa kisah mereka diabadikan dalam bentuk tradisi. Sekarang ini, filosofi ini  masih relevan. Saparan Bekakak mengajarkan bahwa pengabdian yang tulus keluarga, komunitas, maupun pekerjaan. Bukan karena ada imbalan, tapi karena memang begitulah seharusnya manusia hidup berdampingan. 

2. Gotong Royong dan Kebersamaan 

Tidak ada Saparan Bekakak tanpa gotong royong. Dari pembuatan boneka, persiapan arak-arakan, hingga prosesi doa. Semangat inilah yang membuat Saparan Bekakak tetap relevan di tengah zaman yang makin individualistis. 

Tradisi ini mengingatkan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan sendirian. Tidak ada yang merasa tugasnya lebih penting dari yang lain, karena semua tahu bahwa tradisi ini hanya bisa hidup kalau semua orang ambil bagian. 

Dari kesetiaan, gotong royong, hingga keterkaitan antarbudaya, Saparan Bekakak ternyata menyimpan pelajaran hidup yang jauh melampaui sekadar ritual tahunan. Dan itulah mengapa tradisi ini layak untuk terus dikenal, dijaga, dan dirayakan. 

Eksplorasi Tradisi Lain yang Ada di Jogja

Yogyakarta memang kaya ritual budaya. Saparan Bekakak bukan satu-satunya tradisi Jogja yang menyimpan filosofi. Ada Tradisi Kembul Bujana, misalnya, adalah ritual makan bersama yang melambangkan kesetaraan dan rasa syukur. Semua duduk setara tidak ada perbedaan status di meja makan.

Lainnya, Upacara Merti Code hadir sebagai wujud syukur dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian Sungai Code yang menjadi bagian dari kehidupan warga Jogja. Nah, jika Sedulur Yogyaku suka dengan Jogja dan segala cuitan ceritanya, bisa selalu pantengin Yogyaku ya, sampai jumpa di artikel berikutnya!