Menelusuri Sejarah Kemantren Mantrijeron yang Penuh Cerita Keprajuritan

Photo of author

Ditulis oleh Bogi Kamali Rozaq

Berkecimpung dalam dunia SEO dan masih belajar.

Jogja bukan sekadar kota tujuan liburan atau kuliner malam yang bikin dompet rela berkorban. Jogja adalah ruang hidup budaya yang tumbuh dari peninggalan Kesultanan pada masa lalu. Nilai-nilai budaya tersebut bukan hanya disimpan di museum atau arsip sejarah, tapi menyatu dalam tata kota, nama wilayah, hingga struktur sosial masyarakat. 

Semua punya cerita, semua punya makna, dan semuanya berakar dari sejarah berdirinya Keraton Yogyakarta. Budaya Jogja terbentuk dari sistem pemerintahan Kesultanan yang rapi dan filosofis. Keraton bukan hanya pusat kekuasaan, tapi juga pusat pengaturan sosial, keagamaan, pertahanan, dan kebudayaan. 

Dari sinilah lahir pembagian wilayah yang unik, di mana setiap kawasan memiliki fungsi tertentu sesuai peran di dalam kesultanan. Bukan random, bukan sekadar penamaan, tapi penuh simbol dan strategi. Jogja versi jadul sudah menerapkan tata kota jangka panjang dan visioner.

Wilayah Kesultanan Berdasarkan Fungsi dan Peran

Kesultanan Yogyakarta, Sumber: kratonjogja.id
Kesultanan Yogyakarta, Sumber: kratonjogja.id

Dalam struktur Kesultanan Yogyakarta, pembagian wilayah sering mengacu pada pekerjaan, asal-usul orang, dan fungsi tertentu. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut : 

  • Kauman dikenal sebagai kawasan para pemuka agama Islam yang berperan penting dalam urusan keagamaan keraton (kaum). Di sanalah para ulama dan penghulu bermukim, menjaga nilai spiritual kesultanan agar tetap sejalan dengan ajaran agama.
  • Bugisan merupakan wilayah yang merepresentasikan pasukan orang Bugis. Mereka dikenal sebagai prajurit tangguh yang memiliki keahlian militer dan loyalitas tinggi terhadap Sultan. 
  • Gerjen merupakan tempat tinggal abdi dalem keraton yang memiliki tugas sebagai tukang jahit keraton. 
  • Ketandan adalah tempat tinggal pejabat penarik pajak. Di masa lalu, petugas penarik pajak dipercayakan kepada etnis Tionghoa. Karena itulah di kampung Ketandan banyak terdapat etnis Tionghoa.
  • Jagalan adalah tempat tinggal pemotong hewan atau tukang jagal binatang ternak untuk keraton.
  • Sayidan adalah tempat bagi masyarakat keturunan Arab di Jogja. Penggunaan kata Sayidan mengacu pada nama Sayyid atau Habib (Habaib).
  • Gedongkiwo dan Gedongtengen adalah tempat penyimpanan harta benda keraton. Nama Gedong mengacu pada nama lain dari bangunan.
  • Patangpuluhan diambil dari nama kesatuan prajurit keraton yang memiliki jumlah 40 personil.
  • Pandean adalah lokasi keberadaan pandai besi yang bertugas menyediakan persenjataan maupun peralatan untuk Kesultanan.

Selain itu, terdapat pula kawasan yang dihuni oleh abdi dalem keraton, yaitu para pelayan dan pengabdi setia yang menjalankan tugas administratif, budaya, hingga urusan teknis. Salah satunya adalah Mantrijeron yang akan diulas pada artikel ini.

Kemantren Mantrijeron dan Jejak Keprajuritan

Salah satu wilayah yang tak bisa dilewatkan dalam cerita sejarah Jogja adalah kemantren Mantrijeron. Secara historis, Mantrijeron memiliki kaitan erat dengan dunia keprajuritan Kesultanan Yogyakarta. 

Nama “Mantrijeron” sendiri dipercaya berasal dari kata mantri yang merujuk pada pejabat atau perwira, serta jero yang berarti bagian dalam atau inti. Sedangkan Kemantren merupakan tingkatan Kecamatan di Kota Jogja.

Ini mengindikasikan bahwa kawasan ini dahulu dihuni oleh para pejabat atau prajurit penting keraton. Kemantren Mantrijeron terletak di sisi selatan Keraton Yogyakarta dan berdekatan dengan Masjid Jogokariyan yang merupakan masjid percontohan nasional. Kemantren Mantrijeron hingga kini menjadi bagian administratif Kota Yogyakarta. 

Lokasinya strategis, dekat dengan pusat kekuasaan, sekaligus berfungsi sebagai wilayah pendukung pertahanan. Pada masa lalu, kawasan ini menjadi tempat tinggal prajurit, perwira, serta pihak-pihak yang memiliki tanggung jawab langsung terhadap keamanan keraton.

Brigade Mantrijero, Sumber: kratonjogja.id
Brigade Mantrijero, Sumber: kratonjogja.id

Prajurit tersebut dikenal dengan kesatuan Bregada (Brigade) Mantrijero. Brigade tersebut memiliki tugas khusus dan memiliki hubungan langsung dengan Sultan. Inilah beberapa tugasnya : 

  • Badan Pertimbangan Keraton: Memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan di lingkungan Keraton. Personil bergada tersebut tentu harus merupakan orang yang berpengalaman, karena salah satu tugasnya adalah menjadi penasihat raja.
  • Pengawal Sultan: Selain menjadi penasihat sultan, dua dari prajurit Mantrijero mendapatkan tugas sebagai pengawal terdekat sultan saat momen penting.
  • Pengelolaan Keraton: Selain kedua tugas diatas, bregada Mantrijero juga memiliki andil dalam pembangunan dan pengelolaan Keraton.

Sejarah Mantrijeron tak bisa dilepaskan dari dinamika militer Kesultanan. Para prajurit yang bermukim di wilayah ini berperan dalam menjaga stabilitas, mengawal kegiatan keraton, hingga menghadapi ancaman dari luar. Nilai keprajuritan seperti disiplin, loyalitas, dan keberanian menjadi identitas yang melekat kuat pada Mantrijeron.

Unsur Kesultanan yang Masih Bertahan

Unsur kesultanan, Sumber: kratonjogja.id
Unsur kesultanan, Sumber: kratonjogja.id

Menariknya, meski zaman terus berganti dan modernisasi makin kencang, beberapa unsur kesultanan masih dipertahankan hingga sekarang. Tata ruang wilayah, nama kampung, hingga tradisi sosial masih mencerminkan sistem lama yang diwariskan oleh keraton. 

Kemantren Mantrijeron pun masih menyimpan jejak tersebut, baik dalam struktur wilayah maupun nilai budaya masyarakatnya. Peran abdi dalem keraton masih eksis, upacara adat masih rutin digelar, dan penghormatan terhadap pusaka Keraton Jogja tetap dijaga sebagai simbol legitimasi budaya dan sejarah. 

Semua ini menjadi bukti bahwa Kesultanan Yogyakarta bukan sekadar cerita masa lalu, tapi realitas budaya yang terus hidup dan beradaptasi.

Menjaga Identitas Budaya di Tengah Zaman

Menelusuri kemantren Mantrijeron bukan hanya soal membaca sejarah, tapi juga memahami identitas. Budaya yang bernilai positif, selaras dengan norma dan agama, sudah semestinya dijaga dan diteruskan. Modern boleh, progresif silahkan, tapi akar budaya jangan sampai tercerabut.

Jogja dengan segala cerita keprajuritannya mengajarkan bahwa identitas adalah kekuatan. Selama nilai-nilai luhur tetap dijaga, budaya bukan penghambat kemajuan, tapi pondasi untuk melangkah lebih jauh. Jadi, tetap bangga jadi bagian dari Jogja dan tentunya tidak hanya estetik di feed Instagram, tapi juga kuat di nilai yang terbentuk nyata.