Mengenal Aneka Motif Batik Khas Jogja, Bukan Sekedar Corak

Photo of author

Ditulis oleh Rohadi Apri

A coffee addict. Currently working as Content Manager at Zeka Digital. Everything has been figured out, except how to live - Sartre

Batik menjadi salah satu identitas budaya Yogyakarta yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya. Tak hanya indah karena visualnya, motif batik khas Jogja juga menyimpan cerita, nilai serta filosofi yang lahir dari sejarah yang panjang. Oleh karenanya, setiap garis yang dibuat tidak hanya sekedar mempercantik kain.

Beberapa orang mungkin menganggap batik hanya merupakan busana formal yang dikenakan di acara tertentu. Padahal, jika ditelisik, batik khas Jogja hadir dengan motif yang mencerminkan status sosial, harapan hidup hingga pandangan hidup orang Jawa. Perbedaan motif bukan hanya kebetulan, tetapi dibuat dengan pakem yang jelas.

Nah, berbincang tentang batik Jogja, ada beberapa motif batik khas Jogja yang tidak hanya unik tetapi juga penuh makna. Apa saja motif batik yang dimaksud? 

Menilik Sejarah Panjang Batik Yogyakarta: Warisan dari Perjanjian Giyanti

Sejarah batik yogyakarta, Sumber: kratonjogja.id
Sejarah batik Yogyakarta, Sumber: kratonjogja.id

Sejarah batik Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari peristiwa besar Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Perjanjian ini secara resmi membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua wilayah, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. 

Menariknya, pembagian ini tidak hanya soal batas wilayah kekuasaan, tetapi juga merambah ke ranah budaya, termasuk busana dan motif batik yang menjadi identitas kerajaan.

Dalam kesepakatan tersebut, seluruh busana dan atribut keraton Mataram yang asli justru diserahkan sepenuhnya kepada pihak Yogyakarta. Hal ini membuat Sultan Hamengkubuwono I memiliki tanggung jawab besar untuk mempertahankan pakem asli dari motif-motif peninggalan Mataram tersebut. 

Sementara itu, pihak Surakarta di bawah pimpinan Pakubuwono III harus melakukan inovasi dan menciptakan tata cara busana baru yang kini dikenal sebagai gaya Solo.

Sejarah mencatat bahwa sejak saat itulah, Yogyakarta dikenal sangat teguh dalam menjaga keaslian motif klasik yang penuh dengan filosofi kepemimpinan dan ketuhanan. 

Karakteristik utama yang bertahan hingga kini adalah penggunaan warna dasar putih yang bersih (latar putih) serta warna sogan yang cenderung berani dan tegas. Ketegasan warna ini bukan tanpa alasan, melainkan representasi dari kejujuran yang menjadi prinsip hidup masyarakat Yogyakarta.

Motif Batik Khas Jogja Beserta Makna dan Fungsinya

Seperti disinggung sebelumnya, ada cukup banyak motif batik khas Jogja yang kini tersedia dan bisa dijadikan opsi. Tentu saja, masing-masing motif batik tersebut memiliki makna dan fungsi tersendiri yang membuatnya spesial.

Adapun beberapa motif batik khas Jogja yang dimaksud di antaranya:

1. Parang Rusak: Simbol Kekuatan dan Ketegasan

Motif batik parang rusak, Sumber: detik.com
Motif batik parang rusak, Sumber: detik.com

Motif Parang Rusak memiliki bentuk dasar huruf S yang saling menjalin dan membentuk garis diagonal dengan kemiringan sekitar empat puluh lima derajat. Pola ini melambangkan kekuasaan, kebesaran, serta kecepatan dalam mengambil keputusan bagi seorang pemimpin yang sedang mengemban tugas. 

Garis yang tidak terputus menggambarkan kesinambungan perjuangan manusia dalam memperbaiki diri dan melawan ego pribadi yang bisa merusak tatanan sosial. Struktur motif yang sangat tegas ini memberikan kesan berwibawa dan kuat bagi siapa saja yang mengenakannya pada acara-acara kenegaraan.

Secara historis, Parang Rusak masuk dalam kategori motif batik larangan yang hanya boleh dikenakan oleh raja dan keluarga dekat di lingkungan istana. Aturan ketat ini diberlakukan karena motif ini dianggap memiliki kekuatan spiritual tinggi yang hanya selaras dengan kedudukan seorang penguasa tertinggi kerajaan. 

2. Kawung: Simbol Kejujuran dan Keadilan

Motif kawung, Sumber: javanologi.uns.ac.id
Motif kawung, Sumber: javanologi.uns.ac.id

Motif Kawung memiliki pola visual berupa empat buah lingkaran lonjong yang disusun secara simetris hingga menyerupai irisan buah aren atau kolang-kaling. Pola geometris ini melambangkan kesucian hati serta niat yang bersih dalam menjalankan segala kewajiban hidup sebagai seorang manusia yang bermartabat tinggi. 

Secara filosofis, titik pusat di tengah empat lingkaran tersebut merepresentasikan Tuhan atau pusat kekuasaan sebagai sumber dari segala arah kehidupan manusia. Struktur yang sangat teratur ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara urusan spiritual dengan urusan duniawi agar tercipta harmoni yang sempurna dalam diri.

Pada zaman dahulu, motif Kawung banyak dikenakan oleh para pejabat kerajaan yang bertugas di bidang administrasi dan penegakan hukum di wilayah keraton. Penggunaan motif ini dimaksudkan sebagai pengingat agar mereka selalu bertindak jujur, adil, dan tidak memihak dalam menjalankan setiap tugas mereka. 

3. Sido Mukti: Harapan Kemakmuran Masa Depan

Motif sidomukti, Sumber: zalora.co.id
Motif sidomukti, Sumber: zalora.co.id

Sido Mukti berasal dari kata “Sido” yang berarti menjadi dan “Mukti” yang artinya hidup mulia serta berkecukupan secara ekonomi maupun spiritual. Motif ini biasanya diisi dengan berbagai ornamen seperti gambar kupu-kupu, singgasana, atau bangunan yang melambangkan kemantapan posisi sosial bagi seseorang dalam masyarakat. 

Fokus utama dari motif ini adalah sebagai bentuk harapan atau doa agar pemakainya bisa mendapatkan keberhasilan dan kebahagiaan sejati dalam hidup. Warna dasarnya yang cenderung kuning keemasan atau cokelat hangat semakin memperkuat kesan mewah dan terhormat pada setiap lembar kain tersebut.

Penggunaan utama kain batik Sido Mukti biasanya adalah dalam prosesi upacara pernikahan adat Jawa, khususnya saat mempelai duduk di pelaminan menerima para tamu. Pasangan pengantin mengenakan motif ini dengan harapan agar kehidupan rumah tangga mereka selalu dilimpahi rezeki yang lancar serta martabat yang tinggi. 

4. Truntum: Simbol Kesetiaan dan Kasih Sayang

Motif truntum, Sumber: wixstatic.com
Motif truntum, Sumber: wixstatic.com

Truntum memiliki pola berupa kuntum-kuntum bunga kecil yang tersebar merata di seluruh permukaan kain sehingga menyerupai taburan bintang di langit malam hari. Nama “Truntum” diambil dari istilah bahasa Jawa yang berarti tumbuh kembali, yang merujuk pada berseminya kembali rasa cinta kasih yang tulus. 

Motif ini diciptakan sebagai representasi dari kesetiaan seorang istri kepada suaminya serta rasa syukur atas keharmonisan yang tetap terjaga dalam hubungan. Visualnya yang halus dan lembut sangat kontras dengan motif Parang yang cenderung tegas.

Dalam tradisi keraton Jogja, motif Truntum memiliki peran penting dalam upacara pernikahan, di mana motif ini wajib dikenakan oleh orang tua kedua mempelai. Hal ini melambangkan tugas orang tua untuk menuntun dan memberikan teladan cinta kasih yang tulus kepada anak-anak mereka yang akan mandiri. 

Nah, beberapa poin di atas adalah ragam motif batik khas Jogja yang perlu Sedulur Yogyaku ketahui. Saat ini, ada cukup banyak toko batik Jogja yang menyediakan berbagai motif batik berbeda untuk dijadikan referensi.

Sedulur Yogyaku pun bisa juga berkunjung ke kampung batik Jogja untuk mengenal lebih lanjut tentang batik Jogja dan belajar membuatnya. Banyak kampung batik yang tersebar di wilayah Jogja, termasuk kampung batik Giriloyo yang cukup populer.