Mengenal Tradisi Patehan, Penyajian Teh ala Keraton Yogyakarta

Photo of author

Ditulis oleh Bogi Kamali Rozaq

Berkecimpung dalam dunia SEO dan masih belajar.

Apa yang terlintas di benak Sedulur Yogyaku ketika mendengar kata Jogja atau Yogyakarta? Bagi sebagian orang, terutama yang pernah kuliah di sana, Jogja adalah ‘Rumah’. Sebuah kota dimana kenangan manis terukir di setiap sudut jalan Malioboro, atau di bangku-bangku diskusi kampus yang riuh.

Jogja memang memegang dua predikat istimewa yang tak terpisahkan, sebagai Kota Pelajar dan Kota Budaya. Sebagai kota Pelajar, Jogja adalah kawah candradimuka bagi jutaan pemuda dari seluruh penjuru Nusantara yang datang menimba ilmu.

Namun, sebagai kota Budaya, Jogja adalah penjaga nyala api peradaban Jawa yang adiluhung. Di tengah deru modernisasi dan pembangunan gedung-gedung baru, denyut nadi tradisi tidak pernah berhenti berdetak di kota ini.

Melestarikan Tradisi di Tengah Modernisasi

Melestarikan tradisi, Sumber: menpan.go.id
Melestarikan tradisi, Sumber: menpan.go.id

Keistimewaan Jogja bukan hanya terletak pada status administratifnya, melainkan pada bagaimana masyarakat dan pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bahu-membahu ‘nguri-uri’ atau melestarikan budaya.

Sedulur Yogyaku bisa melihat bagaimana upacara-upacara besar Keraton Jogja seperti Grebeg, Sekaten, atau Labuhan masih dijalankan dengan penuh khidmat. Untuk tingkat lingkungan kampung, masih ada tradisi kembul bujana, kenduri, tetebah dan juga rewang. 

Bahkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, tata krama, bahasa, dan unggah-ungguh masih menjadi nafas pergaulan. Karena itulah, masyarakat Jawa terkenal dengan masyarakat yang sopan dan berkarakter tenang.

Pusat dari segala tradisi ini tentu saja berada di balik tembok putih Keraton. Keraton bukan sekadar tempat tinggal Sultan, melainkan sebuah museum hidup di mana ritual-ritual masa lalu masih dijalankan dengan presisi yang sama seperti ratusan tahun yang lalu.

Di antara sekian banyak tradisi agung yang melibatkan ribuan orang, ada satu tradisi unik yang sifatnya lebih privat, hening, namun sarat makna filosofis. Tradisi itu berkaitan dengan minuman yang mungkin setiap hari Sedulur Yogyaku konsumsi, yakni minuman teh. Tradisi tersebut bernama Patehan.

Apa Itu Tradisi Patehan?

Tradisi Patehan, Sumber: promediateknologi.id
Tradisi Patehan, Sumber: promediateknologi.id

Bagi masyarakat awam, istilah ‘Patehan’ mungkin belum terlalu akrab di telinga dibandingkan dengan ‘Sekaten’. Secara etimologi, Patehan berasal dari kata ‘Teh’. Dalam struktur organisasi Keraton Jogja, Patehan merujuk pada dua hal: nama sebuah tempat (bangsal) dan nama golongan Abdi Dalem keraton.

Bangsal Patehan adalah tempat khusus untuk meracik minuman bagi Raja dan kerabatnya. Sedangkan Abdi Dalem Patehan adalah para punggawa yang bertugas khusus untuk mengelola segala hal yang berkaitan dengan penyajian minuman, mulai dari jamu tradisional, air putih, teh, kopi, hingga perlengkapannya.

Jadi, tradisi Patehan bisa diartikan sebagai upacara atau tata cara penyajian teh dan juga minuman lain di lingkungan Keraton Jogja yang dilakukan dengan protokol yang sangat ketat. Karena minuman yang populer dan yang sering disajikan adalah teh, maka penamaan patehan lebih populer.

Sejarah dan Pencetus Patehan

Sri Sultan Hamengku Buwono I, Sumber: pikiran-rakyat.com
Sri Sultan Hamengku Buwono I, Sumber: pikiran-rakyat.com

Menilik sejarahnya, tradisi minum teh di lingkungan istana Jawa sebenarnya sudah berlangsung sangat lama. Namun, pelembagaan Patehan sebagai sebuah tepas (departemen) khusus di Keraton Jogja diyakini sudah ada sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I, sang pendiri Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu sendiri.

Pada masa kolonial, budaya minum teh yang dibawa oleh orang-orang Belanda juga turut mempengaruhi gaya hidup kaum bangsawan Jawa. Namun, Keraton Jogja mengadopsinya dengan filosofi Jawa yang kental.

Teh bukan sekadar minuman pelepas dahaga, melainkan simbol pelayanan, ketenangan, dan penghormatan tertinggi kepada Raja. Hingga kini, tradisi ini terus dilestarikan oleh Sultan-Sultan penerusnya sebagai bagian dari warisan tak benda yang sangat berharga.

Prosesi Unik Tradisi Patehan

Prosesi tradisi patehan, Sumber: kratonjogja.id
Prosesi tradisi patehan, Sumber: kratonjogja.id

Sedulur Yogyaku, prosesi Patehan bukanlah sekadar menyeduh air panas ke dalam cangkir. Ini adalah sebuah ritual yang hening dan sakral. Prosesi biasanya dimulai dari Bangsal Patehan. 

Di sana, para Abdi Dalem Patehan yang mengenakan busana pranakan (seragam khas Abdi Dalem berwarna biru tua atau lurik) meracik teh dengan peralatan yang sebagian besar merupakan benda pusaka.

Teko-teko dan cangkir yang digunakan bukanlah barang sembarangan, melainkan perlengkapan keramik kuno yang memiliki nilai sejarah tinggi. Teh yang digunakan biasanya adalah teh tubruk dengan aroma melati yang kuat, diseduh kental dan manis.

Yang paling menarik perhatian adalah cara penyajiannya. Ketika teh sudah siap di dalam teko tembaga atau keramik, para Abdi Dalem akan membawanya menuju tempat Sultan berada. Iring-iringan ini sangat khas. 

Barisan paling depan biasanya membawa songsong atau payung agung berwarna hijau atau kuning, yang menandakan bahwa sajian yang dibawa tersebut ditujukan untuk Raja. Payung ini bukan untuk melindungi dari hujan, melainkan simbol kehormatan bahwa apa yang ada di bawahnya adalah sajian bagi sang Raja.

Para Abdi Dalem akan berjalan beriringan dengan langkah yang teratur, menjaga agar nampan berisi cangkir dan teko tidak goyang sedikitpun. Ketika mendekati area di mana Sultan duduk, atau ketika menyerahkan sajian, mereka tidak berjalan berdiri, melainkan melakukan lampah dodok (berjalan sambil berjongkok).

Gerakan lampah dodok ini sangat sulit dan membutuhkan latihan fisik serta kesabaran tinggi. Ini adalah wujud penghormatan total seorang abdi kepada rajanya. Tidak boleh ada posisi kepala yang lebih tinggi dari Raja. 

Dalam keheningan, teh dituangkan. Sebelum disajikan kepada Sultan, biasanya ada seorang Abdi Dalem senior yang bertugas mencicipi sedikit teh tersebut (sebagai prosedur keamanan pangan tradisional untuk memastikan teh layak dan aman). Setelah dinyatakan aman, barulah teh disajikan.

Tradisi ini dilakukan setiap hari pada jam-jam tertentu. Biasanya pagi dan sore hari sebagai rutinitas pelayanan kepada Sultan, dan juga dilaksanakan pada upacara-upacara jamuan tamu negara atau ritual adat keraton lainnya.

Teh Sebagai Perekat Hubungan: Dari Keraton ke Keluarga

Tradisi minum teh bersama keluarga, Sumber: kompas.id
Tradisi minum teh bersama keluarga, Sumber: kompas.id

Sedulur Yogyaku, meskipun Patehan adalah tradisi eksklusif keraton dengan tata krama yang rumit, semangat dari minum teh itu sendiri sebenarnya sangat dekat dengan semua kalangan.

Di luar tembok istana, minum teh bersama keluarga adalah budaya yang mengakar kuat di masyarakat Indonesia. Ngeteh sore di teras rumah sambil menikmati pisang goreng adalah hal yang rutin. Di Jawa Tengah dan DIY, teh poci dengan gula batu adalah teman setia obrolan angkringan hingga ruang tamu rumah.

Budaya ini juga bisa ditemukan di belahan dunia lain. Jepang memiliki Chanoyu atau Sado, upacara minum teh yang penuh kedamaian dan meditasi. Inggris memiliki tradisi Afternoon Tea atau High Tea yang menjadi ajang sosialisasi kaum bangsawan hingga masyarakat umum. Cina, sebagai tempat asal tanaman teh, memiliki ritual Gongfu Tea yang mementingkan seni penyeduhan.

Apa benang merah dari Patehan di Keraton, Chanoyu di Jepang, dan ngeteh sore di rumah kita? Jawabannya adalah kebersamaan dan ketenangan. Teh menjadi perekat hubungan. 

Di Keraton, Patehan merekatkan hubungan pengabdian antara Abdi Dalem dan Rajanya, serta menjaga keselarasan kosmos kecil di dalam istana. Di rumah, secangkir teh hangat menjadi media untuk mencairkan suasana, membuka obrolan antara ayah dan anak, atau meredakan ketegangan suami istri setelah seharian bekerja.

Penutup

Tradisi Patehan mengajarkan bahwa dalam segelas minuman, terkandung nilai sopan santun, kesabaran, dan penghormatan yang luar biasa. Yogyakarta tidak hanya istimewa karena pemerintahannya, tetapi juga karena kekayaan jiwanya yang tercermin dalam tradisi-tradisi seperti ini.

Mari terus jaga semangat kebersamaan ini. Mungkin Sedulur Yogyaku tidak melakukan lampah dodok saat menyajikan teh di rumah, namun Sedulur Yogyaku bisa mengambil esensinya, yakni menyajikan yang terbaik dengan hati yang tulus untuk orang-orang yang dicintai. Sudahkah Sedulur Yogyaku ngeteh hari ini?